Selasa, 24 Juni 2014

Ketika Kecantikan Menjadi Sebuah Ujian

Aku menatap jelas perempuan yang duduk tepat didepanku saat aku menumpangi angkutan umum yang mengantarkanku ke tempatku pergi menuntut ilmu. Tempat kost-kostanku tidak jauh dengan kampusku, cukup naik 1 kali angkutan umum pun juga bisa.
Perempuan itu sungguh cantik sekali, wajahnya tidak membosankan untuk kulihat, aku berkata dalam hatiku, andai saja aku ini kaum adam, aku pasti jatuh cinta padanya. Perempuan itu sepertinya mulai risih saat mataku ini tak henti memperhatikan gerak-geriknya. Rambutnya terurai sebahu, tatapan matanya itu begitu sensual, bibir tipisnya pun juga tak kalah dengan tatapannya, sensual.
Tiba-tiba perempuan itu pun turun dari angkutan umum yang aku tumpangi, rupanya ia lebih dulu dari pada aku. Saat ia akan turun dari tempat duduknya itu, tampak begitu repot sekali. Tangan kirinya selain menenteng tas yang ia bawa ia juga harus menutupi pada bagian leher bajunya yang terlalu lebar sehingga belahan pada dadanya itu terlihat, dan tangan kanannya harus menutupi belakang bajunya, karna jika ia menunduk maka bagian-bagian yang tidak diinginkan pun akan terlihat juga.  Ia pun turun dari angkutan umum dengan mulut yang komat-kamit. Entah ia merasa direpotkan dengan pakaiannya atau memang merasa risih, karna sejak aku duduk, mataku tak henti memperhatikannya.
5 menit kemudian aku minta diberhentikan tepat didepan kampusku. Aku pun tak lupa membayar ongkos yang biasa aku berikan sebesar Rp 1500,. Sesampai aku di kelas, aku menceritakan perempuan yang tadi lihat di angkutan umum pada temanku, Gea. Rupanya Gea mengenali siapa perempuan itu, malah ternyata perempuan itu adalah icon kampusku yang memang terkenal, hanya aku saja yang baru melihatnya. Namanya adalah Erva.
Erva adalah mahasiswi semester 7 yang seangkatan denganku namun berbeda fakultas. Erva memang cantik dan proporsional, tak sedikit mahasiswa baik junior hingga senior yang dibuat terbelalak oleh pesonanya. Bahkan hingga dosen-dosen pun tak mampu menutupi rasa keinginannya untuk sekedar mengobrol basa-basi atau mengajak dinner. Aku cukup bangga padanya, ia memang cantik dan banyak penggemarnya, pasti dengan kecantikannya itu ia hidupnya bahagia. Erva pun menghampiri tempatku dan Gea yang sedang duduk menunggu kuliah jam kedua.
Aku pun memberikan senyum untuknya. Tapi sayang, dia begitu jutek. Mungkin dia masih kesal karna satu angkutan tadi pagi bersamaku. Aku benar-benar memuji habis-habisan pada Erva. Tapi, terdengar suara Azam yang sedang membicarakan Erva, padahal Erva itu ada disampingku. Aku gak tahu dimana letak kesopanannya Azam, bisa saja Erva itu mendengar omongan kasarnya Azam yang sedang membicarakannya.
“Bro, si Erva cantik ya ! Sayang gak bertudung. “ cerita Azam dengan berbisik hingga terdengar sampai ke kupingku, pada salah satu teman kelasku juga Akhsan.
“Munafik lo zam, gue tahu mantan-mantan pacar lo juga kebanyakan gak bertudung, kenapa lo menyayangkan Erva gak bertudung ?” jawab Sidiq, dan jika aku ada dalam perdebatannya aku akan sangat pro sekali sama jawaban Sidiq.
“Justru itu bro, gue hanya mampu bertahan 1 sampai 3 bulan dengan mantan-mantan gue yang gak bertudung, dibanding dengan mantan terakhir gue...”
Azam pun tidak melanjutkan jawabannya itu, lalu Sidiq pun meminta Azam untuk meneruskan jawabannya itu.
“Mantan terakhir lo siapa ? Chika kan ? Dia juga tidak bertudung zam !”
“Mantan terakhir gue itu Nafissa bro, lo gak tau dia siapa, karna hubungan gue sama Nafissa hanya sampai 2 minggu. “ tukas Azam dengan wajah yang kecewa.
Erva pun pergi dari tempat duduk tepat disampingku. Aku pun menegur Azam untuk tidak membicarakan Erva.
“Azam ! gara-gara lo Erva pergi noh ! Lo gak kira-kira kalau ngomongin orang tuh !”
Ternyata Azam tidak menyadari Erva duduk disampingku. Azam pun malah dengan lantang menceritakan mantan pacar terakhirnya itu, dan tanpa sadar aku pun terbawa hanyut oleh cerita cinta Azam.
Mantan pacar terakhir Azam adalah Nafissa, mahasiswa PTN di Bandung juga. Menurut Azam, Nafissa gak kalah cantik dengan Erva, hanya saja Nafissa lebih memberikan kesan penasaran, meskipun ia tidak bertudung, tapi ia mampu menutupi bagian-bagian yang memang sensitif. Lain halnya dengan Erva, yang selalu berpakaian ketat. Azam memang berniat serius pada Nafissa, hanya saja Nafissa lebih pintar melihat kelakuan Azam yang memang sering bergonta-ganti pacar dan terlebih sering juga Azam membawa perempuan masuk ke kamar kostnya. Dengan alasan ada tugas kuliah yang tidak ia mengerti.
Azam pernah memberi tantangan pada Nafissa,
“Naf, kamu itu cantik sayang. Tapi lebih cantik lagi kalau kamu bertudung!Aku pengen lihat kamu bertudung.”
Nafissa pun mengangguk tanda setuju. 3 hari kemudian Nafissa meminta Azam untuk menemuinya di kampus Nafissa.
Azam sangat terkagum-kagum pada Nafissa, menurutnya dari sekian banyak mantan-mantannya itu hanya Nafissa yang mampu menerima tantangan dari Azam. Sayangnya Nafissa punya rencana lain.
“Naf, subhannallah benar kataku naf, kamu cantik banget!”
“Allhamdulillah zam, kamu sudah memberi bahan untukku, sampai-sampai aku hampir lupa sama janjiku sama Allah!”
Saat mendengar jawaban Nafissa, Azam tampak tersenyum bangga akan dirinya sendiri, karna ia bisa menaklukan perempuan paling cantik menurutnya.
“Syukurlah naf, kalau ternyata keinginanku ini memang janjimu sama Allah.”
“Azam, aku bertudung bukan karna semata-mata aku mengiyakan keinginan kamu. Kita ini masih pacaran, dan hanya baru 2 minggu. Aku memang sudah ada niatan untuk bertudung saat aku semester 1 dan aku akan semakin memantabkan jika aku sudah menikah nanti, tetapi tak sia-sia istikharahku sepanjang aku saat semester 1 hingga semalam tadi memberikan jawaban bahwa ini saatnya aku bertudung dan memilih pilihan calon hidupku!
Ada perasaan kecewa dan sekali lagi sedikit bangga akan dirinya Azam juga, karna Azam sudah yakin, Azam akan dipilih untuk menjadi calon dikehidupannya Nafissa. Padahal jawaban Nafissa,...
“Hubungan kita cukup disini saja Azam!”
Nafissa meninggalkan Azam saat itu juga hingga sekarang ini. Azam begitu kecewa dan menaruh dendam pada Nafissa. Tampak wajahnya memerah saat Azam menceritakan bagian kisahnya yang satu ini.
 Dari kasat mataku, Azam terlalu egois. Menurutnya semua perempuan-perempuan yang ia pacari itu harus menuruti apa keinginan Azam. Azam memang terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan, jadi semasa hidupnya memang selalu dimanjakan oleh harta-harta yang dimiliki orang tuanya. Berapa banyak perempuan yang disakiti oleh Azam hingga berdatangan kekelasku. Saat perempuan-perempuan yang memang cantik itu berlutut dihadapan Azam, jawaban Azam hanya simple.
“Hei sudah jangan berlutut gitu, aku bukan Tuhan kamu sayang. Nomor rekening kamu berapa ? Nanti pulang kuliah aku transfer !”

Aku gak tahu asal-muasal cerita cinta mereka itu seperti apa, yang jelas Azam selalu menjawab seperti itu, “Nomor Rekening”. 

Senin, 16 Juni 2014

Panah Berbentuk Hati

Nobita adalah gadis fresh graduate dari universitas swasta di bandung yang baru saja lulus 2 tahun yang lalu. (Fresh graduate bagian mananya ??) Dia tak pernah mau mengakui tahun angkatan kuliahnya, karna menurutnya kalau dia berkata yang sebenarnya, otomatis orang-orang sekitarnya akan mengetahui tahun kelahiran dia yang sesungguhnya. Kritis memang, tapi ya seperti inilah kelakuan gadis berusia 23 tahun ini. Ups !
Nobita atau biasa dipanggil dengan panggilan Nobi merasa sudah hilang arah karna pujaan hati yang diidam-idamkannya belum jua berkunjung mengunjunginya di Jakarta Raya ini.
2 tahun yang lalu Nobi memutuskan untuk berurbanisasi dari Cianjur ke Jakarta. Meskipun tempat lahir Nobi kurang terlihat keren karna terlahir di Cianjur, tetapi paras wajahnya akan mengalahkan beberapa wanita yang lahir di Subang,Tasikmalaya dan Garut. Cantik. Tidak bisa dipungkiri, Nobi terlahir menjadi seorang wanita yang cantik. Tidak ada setitik noda yang terlihat dari luar Nobi, mungkin bisa saja di dalamnya terdapat panu. Tapi itu tidak menjadi masalah untuk Nobi, cukup oleskan salep semua lancar.
Unge selalu hadir dalam acara apa pun bersama Nobi, karna hanya Unge lah yang selalu membawa keceriaan bagi Nobi. Gaya khas kepanikan Unge, selalu membawa Nobi ke dalam toilet, karna Nobi tengah dibuat pipis dicelana akan tingkah kepolosan Unge.
Saat itu hari senin, Nobi dan Unge pergi ke sebuah undangan pernikahan teman Nobi yang bertempatkan di bandung. Nobi pun sengaja meliburkan dirinya dari pekerjaan yang menurutnya terlalu monoton. Nobi berangkat menuju bandung. Sesampai di bandung, Unge sudah menjemputnya.
" Ohh senangnya hati gue, lo selalu tepat deh kalau jemput gue !" Seru Nobi pada Unge yang sudah menunggu Nobi sejak 30 menit yang lalu.
" Buruan lo masuk, keburu kehabisan bunga pengantinnya ! " jawab Unge dengan ketus.
" Lah bukan makanannya yang keburu habis Nge ? " tanya Nobi terheran-heran.
Unge pun malah balik bertanya pada Nobi, " Inget gak Nobi.. umur lo sekarang itu berapa ? "
" Masih 23 tahun Nge, kan lo diatas gue umurnya. Santai saja lagi, gue belum mau nyusul lo kok ! "
" Gue kan sudah ada calonnya, lo apa kabarnya 23 tahun belum dapat cowok juga ! "
Nobi pun termenung sejenak. Dia berpikir, ada benarnya perkataan temannya itu.
Unge pun langsung tancap gas menuju jalan gatot subroto. Sesampai di sana, Unge asyik dengan pilihan-pilihan stand makanan di sana. Dan Nobi membaur dengan teman-teman kuliahnya dulu.
Nobi pun dikenalkan dengan teman kuliahnya itu yang berbeda fakultas dengannya. Akhirnya Nobi dan Adith berkenalan.
Rena pun memanggil Nobi.
" Nobi, sini lo ! "
" Woah... lo Ren, keren sudah hamil lagi. Lo kapan nikahnya Ren ? "
Nobi pun malah mengajak Rena untuk berbasa-basi.
" Gak penting ah ! Cowok lo mana ? "
" Kok kagak penting, itu calon anak lo masak gak penting Ren. Gue single ! "
" Maksud gue, pertanyaan lo ke gue kagak penting. Mau gue kenalin sama si Adith gak ? "
" Adith ? Siapa memangnya ? "
" Adith, anak fisip ! Dulu lo sempat suka kan sama dia ? "
" Gue gak tahu Ren, yang mana sih ? "
Nobi memiliki sifat pelupa yang permanen. Kini, Rena pun memanggil Adith yang sedang mengobrol dengan Unge.
Adith pun menghampiri Rena dan Nobi.
" Woah... lo Ren, keren sudah hamil lagi. Lo kapan nikahnya Ren ? "
Nobi pun keheranan, sepertinya kalimat pertanyaannya Adith sama persis dengan pertanyaannya tadi pada Rena.
Rena pun tidak menjawab pertanyaan Adith.
" Adith, sini gue kenalin lo sama teman kampus gue ! "
Rena pun memberi kode pada Nobi untuk menjabat tangan Adith.
" Halo Adith, gue Nobi. "
" Oh, gue Adith. "
Rena malah meninggalkan Adith dan Nobi. Dengan wajah tersipu malu dicover dengan kecantikannya, Nobi terlihat gugup saat mengobrol dengan Adith.
Adith pun meminta kontak Nobi yang bisa dihubungi dengan alasan Nobi akan diajak Adith untuk acara pemotretan. Wajar saja, Nobi memiliki postur tubuh yang ideal.
1 bulan kemudian...
Adith tak kunjung menghubungi Nobi dari setelah pertemuan terakhir mereka di Jakarta, saat Adith menjadi panitia pameran photography di sana.
Rupanya Adith tengah mempersiapkan sesuatu untuk Nobi, jika Nobi nanti tiba di bandung, dibantu oleh teman sekolahnya dulu di SMA, Unge. Adith merasa yakin, sureprise ini akan berhasil untuk Nobi.
Nobi pun menceritakan kegalauannya terhadap Adith. Ternyata diam-diam Nobi memang menaruh harapan pada Adith. Tapi itu semua tidak bertepuk sebelah tangan. Adith mengabulkan semua pengharapan Nobi.
Tepat pukul 8 malam di sebuah cafe bandung, Adith menyatakan cintanya pada Nobi.
Malam menjelang tidur, Nobi hampir tidak bisa tidur semalaman. Nobi merasa seperti melayang dan tertusuk oleh anak panah yang ujungnya berbentuk hati.
TAMAT.

kapan itu semua terjadi pada penulis ???

Jumat, 06 Juni 2014

Belum Ada Judul

Tiga tahun yang lalu itu aku masih berstatuskan mahasiswa perguruan tinggi swasta di Bandung yang memiliki segudang... (prestasi?) masalah. Mulai dari sulitnya bangun tidur di pagi hari, sulitnya beradaptasi dengan mata kuliah inti, sulitnya menerima keadaan bahwa, “Bunga ! Saya harus bilang berapa kali sama kamu, kamu itu kenapa sih tiap mata kuliah saya ini gak pernah lulus. Ini sudah kedua kalinya kamu gak lulus, dan sekali lagi saya kasih kesempatan kamu bertemu saya dengan mahasiswa-mahasiswa junior di semester mendatang.”
Aku mendapatkan kalimat-kalimat seperti itu sejak aku semester dua hingga semester enam dan terhenti saat aku semester delapan. Tuhan begitu baik padaku, aku lulus di semester sepuluh, memang aku tertinggal diantara yang lainnya, tapi tak apalah, toh endingnya aku tetap lulus dengan IPK memuaskan. Lumayan.
2 bulan setelah aku menyandang gelar Sarjana Ekonomi, aku mendapatkan pekerjaan yang cocok dengan hatiku, sayangnya aku harus berangkat ke Jakarta, karna penempatan kerjaku di Jakarta. Penuh tangis dan haru saat kedua orangtuaku mengantarkan kepergianku, padahal aku di Jakarta bukan di Singapura, tetapi orang tuaku menangisiku seolah aku akan pergi jauh, ya maklum mungkin karna aku anak satu-satunya.
“Nak, ingat ya kamu harus kabarin ayah selalu ! Pagi saat kamu bangun tidur, siang saat kamu makan siang, sore saat kamu pulang dari kantor dan malam saat kamu akan tidur. “
Ayahku memberi petuah yang sangat panjang sekali. Sampai-sampai aku hampir lupa dalam satu minggunya.
“Unge!! Kamu ini kebiasaan ya gak ngabarin ayah. Sudah berapa kali yah bilang sama kamu, kabarin terus ayah dalam satu hari itu! “ ayahku protes, saat aku sedang jam kerja, pukul 10.00 pagi.
“Aduh ayah...Unge sibuk yah, ayah tahu ini Unge lagi dimana ?” tanyaku pada ayah yang sedang memegang shower.
“Memangnya kamu ini dimana ? “
“Unge di toilet ayah. Unge udah 3 hari belakangan ini diare terus yah !”
Ayah malah langsung menutup telponnya. Namun 15 menit kemudian, aku mencoba bertahan hidup dengan diareku ini. Aku kembali ke meja kerjaku, saat aku duduk, teman kerjaku Bowo menatapku dengan tajam dan penciuman yang sinis.
“Bowo, lo apa-apaan sih ngelihat gue kayak lihat penjahat aja!” tanyaku pada Bowo yang sedang menyalakan musik di meja kerjaku.
“Jadi lo pelakunya ya ?” jawab Bowo dengan menunjuk-nunjuk kearahku.
“Lo apa-apaan sih. Makin gak ngerti gue!” tanyaku lagi dan tidak menghiraukan Bowo.
“Jadi lo yang bolak-balik toilet dan lo gak siram tokai-tokai kepunyaan lo itu!”
Saat itu juga aku langsung menyekap Bowo dan mengikatnya lalu aku aku masukkan kedalam karung, dan tak lupa aku memberinya obat CTM 5 butir (CTM=Obat alergi gatal-gatal yang menyebabkan kantuk) yang aku paksakan agar Bowo mau meminumnya. Lalu aku buang Bowo ke gudang belakang.
Serammmmm!!
Bowo membuatku kaget untung saja volume suara Bowo tidak terlalu kuat. Akhirnya aku berikan rokok mahal sejakarta raya untuk Bowo sebagai tanda persahabatan yang erat, agar Bowo tidak menceritakan rasahasia agent FBInya ini.
Handphone aku pun berbunyi lagi dan nomornya tidak aku kenal, yang jelas ini dari Bandung.
“Halo !”
“Iya selamat siang Unge. Saya Dokter Agus dari Klinik Antapani Sentosa. Unge barusan Pak Suryadi Jasmin menelepon saya, katanya kamu sedang diare sudah 3 harian ya ? Saya akan menuju kantornya Unge ya sekarang !”
“Apa ? Itu kan ayah, dok sebentar dok, disini juga banyak dokter kok, saya juga sekarang mau izin ke kantor mau periksakan diare saya ini !”
Terdengar dari dokter Agus itu seperti kontra mendengar jawabanku itu, tapi ayah kali ini khawatirnya kebangetan. Di jakarta juga banyak klinik dan rumah sakit, masa iya yang dari Bandung harus bela-belain ke Jakarta, malah nambah besar biaya yang ada.  Aku pun  menelepon ayah, untuk memberi kabar bahwa aku sudah ditangani oleh dokter disini, yang letaknya tidak jauh dari kantorku.
Ada yang membuat mataku tertuju pada billboard yang menginformasikan ada pameran photography di Braga Bandung pada hari sabtu nanti. Aku pun memberikan informasi ini pada Bowo, karna Bowo memang sangat menyukai dunia photography. Bowo pun setuju hari sabtu nanti ia akan ikut bersamaku ke Bandung.
Sabtu...
Aku dan Bowo sampai di Braga, Bowo pun tak lupa membawa kamera tercintanya.
Saat aku duduk manis di Sweet Cafe, di balik kaca jendela itu aku melihat seorang pria yang tengah berpakaian perlente yang sedang mengatur para karyawannya. Aku tanpa Bowo saat itu, karna Bowo sedang mengitari pameran photography dan aku memutuskan aku untuk menunggunya saja disini.
Aku menatap tajam siapa pria itu, dan akhirnya pria itu tepat bertatapan denganku. Aku pun memberikan senyum untuknya, dan pria itu pun membalasnya. Aku mengenalinya..
“Hai mas, sedang apa disini kayaknya lagi sibuk ya?” tanyaku seraya berjabat tangan dengannya.
“Saya lagi kerja disini. Sendirian aja kamu Bung ? “ jawabnya dan sekaligus bertanya padaku.
“Aku bareng sama temanku mas, cuma dia lagi lihat-lihat pameran di luar sana.”
Aku dan mas Endro pun mengobrol panjang sampai aku lupa kemana Bowo hingga jam sekarang ia belum kembali ke cafe ini.
Aku pun berpamitan dengan mas Endro untuk menyusul Bowo. Dan tak lupa kami bertukeran pin bbm.
Mas Endro dulunya adalah dosen yang tidak meluluskanku dimata kuliah ekonomi hingga dua kali, selain menjadi dosen, sekarang ia menjadi CEO di Sweet Cafe. Setelah aku lulus kuliah mas Endro selalu meminta untuk ditemani ke toko buku milik ibuku dengan alasan ada lowongan pekerjaan yang cocok untukku, dari situlah awal mulanya mas Endro ingin dipanggil dengan sebutan mas, agar tidak ada senioritas diantara kami katanya.


Bersambung... 
Mau belajar dulu penulisnya buat negara Indonesia supaya semakin berjaya

Selasa, 03 Juni 2014

Be honesty

Jujur itu akan mendapatkan reaksi yang meyakitkan dari orang-orang yang mendengar pernyataan kejujuran. Pahit benar memang rasanya, tetapi ya...inilah kejujuran.
Saat aku mengakui, “Ya, sayang itu semua adalah asset yang aku miliki, kenapa ? Kamu kaget aku lebih kaya dari kamu ?”.
Saat aku mengakui, “Ma, maafin aku, aku gak lulus!”.
Saat aku mengakui, “Kak, sebenarnya aku yang ceritain tentang pacar kakak baru itu sama mantan kakak.”.
Reaksi jawaban dari tiga kejujuranku di atas adalah, “Pembohong, bodoh dan mulut ember korban susu formula di  tahun 90.” Ada yang nyambung ada yang tidak nyambung juga, akan aku hargai jawaban mereka karna aku sudah berkata jujur. Dan ada satu hal lagi, aku pun juga sama aku pernah menerima salah satu kejujuran dari mantan pacarku dulu yang bernama Raymon.
“Sayang, kamu tahu gak aku punya sesuatu buat kamu.”
Aku pun bertanya pada Raymon dengan rasa penuh penasaran,
“Apa sayang aku boleh tahu gak ?”
“Boleh dong ! Aku punya pacar dua sayang! “
Sesaat semuanya terhenti selain detak jantungku.
Hening. Aku berpikir, apakah Ray ini bercanda atau serius, karna Ray ini adalah mahasiswa fakultas Seni yang kuliah di kampusku juga.
“Kamu itu ya bercanda mulu !” aku pun mencubit lengannya dengan lembut.
“Sayang coba aku tanya. Ada wajah bercanda gak dari raut wajahku ini ?”
Aku mulai yakin bahwa aku adalah istri mudanya (pacar keduanya). Aku langsung geram. Aku murka. Aku muak. Aku cabik wajahnya dengan kuku-kuku di jari tanganku yang indah.
“Lo brengsek monyet !!!”
Croooooooot! (Maaf salah bunyinya) Sreeeeeeeetttttt!
Bunyi gurih-gurih nyoooy itu membekas di wajahnya Ray. Dan Ray pun mengerang kesakitan.
“Aww! Aku tahu aku pantas dapat perlakuan ini dari kamu. Tapi mau gimana lagi ini kenyataan sayang ! “
Ray masih memanggilku dengan panggilan sayang.
“Salah gue ? Bilang sama gue letak kesalahan gue selama ini sama lo dimana ?” tanyaku yang menangis haru biru.
“Kamu bohong sama aku ? Ingat kan Nge, saat kamu bilang sama aku kalau ternyata semua asset itu adalah milik kamu, bukan milik ayah kamu. “
Ray pun akhirnya memanggilku dengan nama panggilanku sesungguhnya.
Itulah kejujuran yang harus aku terima, saat Raymon ternyata memiliki dua wanita dan salah satunya aku.
Awalnya aku ragu dengan kejujuran yang pahit itu, tapi aku berpikir lagi, mau sampai kapan aku akan dibohonginya terus-menerus. Berarti ada bagusnya dia telah berkata jujur. Dan hingga detik ini, aku mulai terbiasa dengan orang-orang yang berbicara jujur padaku.
Terkadang berbohong itu memang sungguh manis, berakting dengan indah tanpa kamera. Seperti pemain pencak silatlah. Loh ???

“Sepenggal kisah,
Hari ini adalah resmi satu tahun aku tanpanya, dan ini berarti nazarku berhasil, kami bisa melepaskan ikatan kami yang sempat diwarnai dengan pertengkaran. Semua kisah dengannya sudah berakhir, jangan terlalu banyak menengok ke belakang, selain menyebabkan sakit leher, sakit hati juga terutama.
Selamat tinggal masa lalu, masa kini akan aku hadapi dengan kejujuran dan berpikir dengan positif. Terimakasih kamu sudah menjadi bagian tersuram dikehidupan cemerlangku. “